Selasa, 18 Agustus 2015

mitos tentang cincin kawin

Mitos:

Harus berbentuk lingkaran

Karena lingkaran adalah simbol ketiadaan awal maupun akhir, sehingga perkawinan ‘pasti’ akan berjalan sempurna dan abadi. 
 
Harus dipakai di jari manis tangan kiri

Bangsa Yunani kuno percaya, pembuluh nadi (vena amoris) mengalir dari ujung jari manis tangan kiri menuju jantung (hati). Secara logika, karena tangan kiri lebih jarang digunakan dibanding tangan kanan, cincin kawin yang dipakai di tangan kiri lebih kecil kemungkinannya rusak.

Harus polos, tak berhiaskan apa pun

Hiasan apa pun, meski terlihat mewah, kelak akan menyebabkan gangguan sehingga perkawinan akan berjalan kurang mulus.

Harus berukuran pas di jari tangan

Cincin kawin yang sempit adalah pertanda bahwa kelak perkawinan dipenuhi kecemburuan atau suasana tak nyaman. Sedangkan cincin kawin yang terlalu besar adalah  pertanda ikatan perkawinan yang kendur, sehingga rawan perceraian.

Jangan dipilih di hari Jumat, atau dipakai sebelum upacara perkawinan

Pelanggaran salah satu atau kedua hal ini bisa menyebabkan kegagalan berlangsungnya pernikahan.

Fakta:
Perkawinan abadi hanya bisa ditentukan oleh keteguhan pasangan pengantin yang bersangkutan, untuk menjaga komitmen masing-masing, sedangkan keawetan cincin kawin sangat tergantung pada cara penyimpanan dan perawatan yang dilakukan. Cincin kawin yang sempit akan mengganggu kelancaran aliran darah, sedangkan cincin yang longgar akan mudah terlepas dari jari tangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar